Tampilkan postingan dengan label pariwisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pariwisata. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Januari 2017

Camping tour 5 hari 4 Malam TOGIAN



Pigipigi menawarkan kehidupan a la suku bajo.
Kita akan menggunakan perahu katinting sebagai alat transportasi kapasitas 6 penumpang dengan 1 boatman dan 1 pembantu.

Hari ke 1 : penjemputan de bandara Ampana lalu ke wakai togian dengan perahu cepat atau ferry, langsung tour di beberapa spot snorkelling, berkunjung ke pulau taipi. Camping di pulau taipi
Hari 2 : beberapa pulau lalu.
Berkunjung ke kadidiri dan snorkelling di sekitar sini, lalu danau ubur ubur dan berkunjung ke hutan manggrove. Bermalam dengan tenda di pantai karina.
Hari 3 ; tour beberapa pulau, bolilanga, malenge, tenda di pulau malenge di pantai  tidak berpenduduk.
Hari ke 4 : transfer ke ampana dengan ferry atau speedboat. Bermalam di marina cottage
Hari ke 5 : transfer ke bandara
Untuk trip silahkan hub kami

Sabtu, 26 Desember 2015

Tips Perjalanan Wisata yang Menyenangkan


Travelling ala Voyageindo.
Mau jalan jalan liburan ?

Supaya Jalan Jalan Enak, Nyaman dan Santai, ini ada beberapa tips supaya kita bisa senang dan bisa menikmati perjalanan wisata kita.

1.persiapan tas.
untuk travelling yang enak nyaman santai, seharusnya jangan di bikin repot dengan banyaknya bawaan tas. perjalanan wisata yang enak nyaman dan santai
seharusnya dengan barang yang ringan ringan saja.
persiapkan tas 2 tas, satu tas yang agak besar, dan satu tas kecil untuk jalan jalan santai. tas besar akan tinggal di hotel selama jalan jalan,
tas kecil akan selalu menemani ketika kita jalan jalan berkunjung ke tempat wisata.
tas kecil ini seharusnya yang bisa bawa air minum, kamera dan tablet, payung kecil dan beberapa p3k yang ringan saja.
biasanya kalau sy travelling saya hanya membawa 2 tas kecil, satu tas isi 10 kg, satu tas lainya hanya 5kg saja.
saya membawa baju yang mudah sy cuci dan cepat kering, jadi di tas selalu ada detergent kecil dan tali kecil untuk jemuran di hotel.
perkirakan kering hanya dengan angin selama 5 jam jemur :)
 
2.bawa peralatan p3k
selama travelling, kita tidak tau kalau kalau terpeleset atau apalah apalah. maka kita membutuhkan pertolongan pertama pada kecelakaan.

3.lampu kecil
kenapa harus pakai lampu kecil, ketika kita trecking dan tengah malam keluar entah kencing di alam atau mati lampu, lampu kecil sangatlah penting
bisanya sy membawa hp yang bisa kita jdaikan lampu, sangat mudah dan efisien.

4.payung / jas hujan.
payung, dan jas hujan yang ringan sangat banyak di jumpai di pasar pasar, biasanya sy hanya pakai topi yang agak lebar supaya terlindung dari panas terik matahari. kalau hujan ya dengan payung kecil atau jas hujan yang ringan juga sudah cukup.

5.belajar bahasa dasar negara yang dikujungi

6.selain kartu kredit dan atm siapkan juga uang cash kalau kalau tdk ada atm di dareah tersebut.
7. kartu kredit / atm cadangan.
8. photo kopi ktp dan surat surat penting kalau kalau kehilangan.

Selamat Beriwsata :)


Jumat, 04 Desember 2015

Mengenal lebih Dekat Daerah Pariwisata Favorit di Sulawesie " TORAJA"















Suku Toraja


Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia. Populasinya diperkirakan sekitar 1 juta jiwa, dengan sekitar 500.000 di antaranya masih tinggal di Kabupaten Tana Toraja, Kabupaten Toraja Utara, dan Kabupaten Mamasa. Mayoritas suku Toraja memeluk agama Kristen, sementara sebagian menganut Islam dan kepercayaan animisme yang dikenal sebagai Aluk To Dolo. Pemerintah Indonesia telah mengakui kepercayaan ini sebagai bagian dari Agama Hindu Dharma.
Kata toraja berasal dari bahasa Bugis, to riaja, yang berarti "orang yang berdiam di negeri atas". Pemerintah kolonial Belanda menamai suku ini Toraja pada tahun 1909. Suku Toraja terkenal akan ritual pemakaman, rumah adat tongkonan dan ukiran kayunya. Ritual pemakaman Toraja merupakan peristiwa sosial yang penting, biasanya dihadiri oleh ratusan orang dan berlangsung selama beberapa hari.

Sebelum abad ke-20, suku Toraja tinggal di desa-desa otonom. Mereka masih menganut animisme dan belum tersentuh oleh dunia luar. Pada awal tahun 1900-an, misionaris Belanda datang dan menyebarkan agama Kristen. Setelah semakin terbuka kepada dunia luar pada tahun 1970-an, kabupaten Tana Toraja menjadi lambang pariwisata Indonesia. Tana Toraja dimanfaatkan oleh pengembang pariwisata dan dipelajari oleh antropolog. Masyarakat Toraja sejak tahun 1990-an mengalami transformasi budaya, dari masyarakat berkepercayaan tradisional dan agraris, menjadi masyarakat yang mayoritas beragama Kristen dan mengandalkan sektor pariwisata yang terus meningkat.

Suku Toraja memiliki sedikit gagasan secara jelas mengenai diri mereka sebagai sebuah kelompok etnis sebelum abad ke-20. Sebelum penjajahan Belanda dan masa pengkristenan, suku Toraja, yang tinggal di daerah dataran tinggi, dikenali berdasarkan desa mereka, dan tidak beranggapan sebagai kelompok yang sama. Meskipun ritual-ritual menciptakan hubungan di antara desa-desa, ada banyak keragaman dalam dialek, hierarki sosial, dan berbagai praktik ritual di kawasan dataran tinggi

Sulawesi. "Toraja" (dari bahasa pesisir to, yang berarti orang, dan Riaja, dataran tinggi) pertama kali digunakan sebagai sebutan penduduk dataran rendah untuk penduduk dataran tinggi.
Akibatnya, pada awalnya "Toraja" lebih banyak memiliki hubungan perdagangan dengan orang luar—seperti suku Bugis, suku Makassar, dan suku Mandar yang menghuni sebagian besar dataran rendah di Sulawesi—daripada dengan sesama suku di dataran tinggi. Kehadiran misionaris Belanda di dataran tinggi Toraja memunculkan kesadaran etnis Toraja di wilayah Sa'dan Toraja, dan identitas bersama ini tumbuh dengan bangkitnya pariwisata di Tana Toraja. Sejak itu, Sulawesi Selatan memiliki empat kelompok etnis utama—suku Bugis (meliputi pembuat kapal dan pelaut), suku Makassar (pedagang dan pelaut), suku Mandar (pedagang, pembuat kapal dan pelaut), dan suku Toraja (petani di dataran tinggi).
Dulu ada yang mengira bahwa Teluk Tonkin, terletak antara Vietnam utara dan Cina selatan, adalah tempat asal suku Toraja.

Sebetulnya, orang Toraja hanya salah satu kelompok penutur bahasa Austronesia. Awalnya, imigran tersebut tinggal di wilayah pantai Sulawesi, namun akhirnya pindah ke dataran tinggi.

Sejak abad ke-17, Belanda mulai menancapkan kekuasaan perdagangan dan politik di Sulawesi melalui Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC). Selama dua abad, mereka mengacuhkan wilayah dataran tinggi Sulawesi tengah (tempat suku Toraja tinggal) karena sulit dicapai dan hanya memiliki sedikit lahan yang produktif. Pada akhir abad ke-19, Belanda mulai khawatir terhadap pesatnya penyebaran Islam di Sulawesi selatan, terutama di antara suku Makassar dan Bugis. Belanda melihat suku Toraja yang menganut animisme sebagai target yang potensial untuk dikristenkan. Pada tahun 1920-an, misi penyebaran agama Kristen mulai dijalankan dengan bantuan pemerintah kolonial Belanda.
Selain menyebarkan agama, Belanda juga menghapuskan perbudakan dan menerapkan pajak daerah. Sebuah garis digambarkan di sekitar wilayah Sa'dan dan disebut Tana Toraja. Tana Toraja awalnya merupakan subdivisi dari kerajaan Luwu yang mengklaim wilayah tersebut.
Pada tahun 1946, Belanda memberikan Tana Toraja status regentschap, dan Indonesia mengakuinya sebagai suatu kabupaten pada tahun 1957.

Misionaris Belanda yang baru datang mendapat perlawanan kuat dari suku Toraja karena penghapusan jalur perdagangan budak yang menguntungkan Toraja.
Beberapa orang Toraja telah dipindahkan ke dataran rendah secara paksa oleh Belanda agar lebih mudah diatur. Pajak ditetapkan pada tingkat yang tinggi, dengan tujuan untuk menggerogoti kekayaan para elit masyarakat. Meskipun demikian, usaha-usaha Belanda tersebut tidak merusak budaya Toraja, dan hanya sedikit orang Toraja yang saat itu menjadi Kristen.

Pada tahun 1950, hanya 10% orang Toraja yang berubah agama menjadi Kristen.
Penduduk Muslim di dataran rendah menyerang Toraja pada tahun 1930-an. Akibatnya, banyak orang Toraja yang ingin beraliansi dengan Belanda berpindah ke agama Kristen untuk mendapatkan perlindungan politik, dan agar dapat membentuk gerakan perlawanan terhadap orang-orang Bugis dan Makassar yang beragama Islam. Antara tahun 1951 dan 1965 setelah kemerdekaan Indonesia, Sulawesi Selatan mengalami kekacauan akibat pemberontakan yang dilancarkan Darul Islam, yang bertujuan untuk mendirikan sebuah negara Islam di Sulawesi. Perang gerilya yang berlangsung selama 15 tahun tersebut turut menyebabkan semakin banyak orang Toraja berpindah ke agama Kristen.
Pada tahun 1965, sebuah dekret presiden mengharuskan seluruh penduduk Indonesia untuk menganut salah satu dari lima agama yang diakui: Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu dan Buddha.[12] Kepercayaan asli Toraja (aluk) tidak diakui secara hukum, dan suku Toraja berupaya menentang dekret tersebut. Untuk membuat aluk sesuai dengan hukum, ia harus diterima sebagai bagian dari salah satu agama resmi. Pada tahun 1969, Aluk To Dolo dilegalkan sebagai bagian dari Agama Hindu Dharma.

Sebuah perkampungan suku Toraja
Keluarga adalah kelompok sosial dan politik utama dalam suku Toraja. Setiap desa adalah suatu keluarga besar. Setiap tongkonan memiliki nama yang dijadikan sebagai nama desa. Keluarga ikut memelihara persatuan desa. Pernikahan dengan sepupu jauh (sepupu keempat dan seterusnya) adalah praktek umum yang memperkuat hubungan kekerabatan. Suku Toraja melarang pernikahan dengan sepupu dekat (sampai dengan sepupu ketiga) kecuali untuk bangsawan, untuk mencegah penyebaran harta.
Hubungan kekerabatan berlangsung secara timbal balik, dalam artian bahwa keluarga besar saling menolong dalam pertanian, berbagi dalam ritual kerbau, dan saling membayarkan utang.

Setiap orang menjadi anggota dari keluarga ibu dan ayahnya.
 Anak, dengan demikian, mewarisi berbagai hal dari ibu dan ayahnya, termasuk tanah dan bahkan utang keluarga. Nama anak diberikan atas dasar kekerabatan, dan biasanya dipilih berdasarkan nama kerabat yang telah meninggal. Nama bibi, paman dan sepupu yang biasanya disebut atas nama ibu, ayah dan saudara kandung.

Sebelum adanya pemerintahan resmi oleh pemerintah kabupaten Tana Toraja, masing-masing desa melakukan pemerintahannya sendiri. Dalam situasi tertentu, ketika satu keluarga Toraja tidak bisa menangani masalah mereka sendiri, beberapa desa biasanya membentuk kelompok; kadang-kadang, beberapa desa akan bersatu melawan desa-desa lain. Hubungan antara keluarga diungkapkan melalui darah, perkawinan, dan berbagi rumah leluhur (tongkonan), secara praktis ditandai oleh pertukaran kerbau dan babi dalam ritual. Pertukaran tersebut tidak hanya membangun hubungan politik dan budaya antar keluarga tetapi juga menempatkan masing-masing orang dalam hierarki sosial: siapa yang menuangkan tuak, siapa yang membungkus mayat dan menyiapkan persembahan, tempat setiap orang boleh atau tidak boleh duduk, piring apa yang harus digunakan atau dihindari, dan bahkan potongan daging yang diperbolehkan untuk masing-masing orang.

Kelas sosial / stratifikasi Sosial

Tana Bulaan ( Bangsawan / darah Biru )
Tana Basi ( Kelas Menengah / Bangsawan menengah)
Tana Karurung ( Orang Awam )
Tana Kua Kua ( Budak )

Dalam masyarakat Toraja awal, hubungan keluarga bertalian dekat dengan kelas sosial. Ada tiga tingkatan kelas sosial: bangsawan, orang biasa, dan budak (perbudakan dihapuskan pada tahun 1909 oleh pemerintah Hindia Belanda). Kelas sosial diturunkan melalui ibu. Tidak diperbolehkan untuk menikahi perempuan dari kelas yang lebih rendah tetapi diizinkan untuk menikahi perempuan dari kelas yang lebih tinggi. Ini bertujuan untuk meningkatkan status pada keturunan berikutnya. Sikap merendahkan dari Bangsawan terhadap rakyat jelata masih dipertahankan hingga saat ini karena alasan martabat keluarga.

Kaum bangsawan, yang dipercaya sebagai keturunan dari surga, tinggal di tongkonan, sementara rakyat jelata tinggal di rumah yang lebih sederhana (pondok bambu yang disebut banua). Budak tinggal di gubuk kecil yang dibangun di dekat tongkonan milik tuan mereka. Rakyat jelata boleh menikahi siapa saja tetapi para bangsawan biasanya melakukan pernikahan dalam keluarga untuk menjaga kemurnian status mereka. Rakyat biasa dan budak dilarang mengadakan perayaan kematian. Meskipun didasarkan pada kekerabatan dan status keturunan, ada juga beberapa gerak sosial yang dapat memengaruhi status seseorang, seperti pernikahan atau perubahan jumlah kekayaan.Kekayaan dihitung berdasarkan jumlah kerbau yang dimiliki.

Budak dalam masyarakat Toraja merupakan properti milik keluarga. Kadang-kadang orang Toraja menjadi budak karena terjerat utang dan membayarnya dengan cara menjadi budak. Budak bisa dibawa saat perang, dan perdagangan budak umum dilakukan. Budak bisa membeli kebebasan mereka, tetapi anak-anak mereka tetap mewarisi status budak. Budak tidak diperbolehkan memakai perunggu atau emas, makan dari piring yang sama dengan tuan mereka, atau berhubungan seksual dengan perempuan merdeka. Hukuman bagi pelanggaran tersebut yaitu hukuman mati.

Agama
Sistem kepercayaan tradisional suku Toraja adalah kepercayaan animisme politeistik yang disebut aluk, atau "jalan" (kadang diterjemahkan sebagai "hukum"). Dalam mitos Toraja, leluhur orang Toraja datang dari surga dengan menggunakan tangga yang kemudian digunakan oleh suku Toraja sebagai cara berhubungan dengan Puang Matua, dewa pencipta.
 Alam semesta, menurut aluk, dibagi menjadi dunia atas (Surga) dunia manusia (bumi), dan dunia bawah.Pada awalnya, surga dan bumi menikah dan menghasilkan kegelapan, pemisah, dan kemudian muncul cahaya. Hewan tinggal di dunia bawah yang dilambangkan dengan tempat berbentuk persegi panjang yang dibatasi oleh empat pilar, bumi adalah tempat bagi umat manusia, dan surga terletak di atas, ditutupi dengan atap berbetuk pelana. Dewa-dewa Toraja lainnya adalah Pong Banggai di Rante (dewa bumi), Indo' Ongon-Ongon (dewi gempa bumi), Pong Lalondong (dewa kematian), Indo' Belo Tumbang (dewi pengobatan), dan lainnya.

Kekuasaan di bumi yang kata-kata dan tindakannya harus dipegang baik dalam kehidupan pertanian maupun dalam upacara pemakaman, disebut to minaa (seorang pendeta aluk). Aluk bukan hanya sistem kepercayaan, tetapi juga merupakan gabungan dari hukum, agama, dan kebiasaaan. Aluk mengatur kehidupan bermasyarakat, praktik pertanian, dan ritual keagamaan. Tata cara Aluk bisa berbeda antara satu desa dengan desa lainnya. Satu hukum yang umum adalah peraturan bahwa ritual kematian dan kehidupan harus dipisahkan. Suku Toraja percaya bahwa ritual kematian akan menghancurkan jenazah jika pelaksanaannya digabung dengan ritual kehidupan. Kedua ritual tersebut sama pentingnya. Ketika ada para misionaris dari Belanda, orang Kristen Toraja tidak diperbolehkan menghadiri atau menjalankan ritual kehidupan, tetapi diizinkan melakukan ritual kematian.Akibatnya, ritual kematian masih sering dilakukan hingga saat ini, tetapi ritual kehidupan sudah mulai jarang dilaksanakan.

Tiga tongkonan di desa Toraja.

Tongkonan Layuk
tongkonan Pekamberan / Pekaindoran
Tongkonan sanda ariri
tongkonan barung barung
(tandilinting )

Tongkonan adalah rumah tradisional Toraja yang berdiri di atas tumpukan kayu dan dihiasi dengan ukiran berwarna merah, hitam, dan kuning. Kata "tongkonan" berasal dari bahasa Toraja tongkon ("duduk").
Tongkonan merupakan pusat kehidupan sosial suku Toraja. Ritual yang berhubungan dengan tongkonan sangatlah penting dalam kehidupan spiritual suku Toraja oleh karena itu semua anggota keluarga diharuskan ikut serta karena Tongkonan melambangan hubungan mereka dengan leluhur mereka. Menurut cerita rakyat Toraja, tongkonan pertama dibangun di surga dengan empat tiang. Ketika leluhur suku Toraja turun ke bumi, dia meniru rumah tersebut dan menggelar upacara yang besar.

Pembangunan tongkonan adalah pekerjaan yang melelahkan dan biasanya dilakukan dengan bantuan keluarga besar. Ada tiga jenis tongkonan. Tongkonan layuk adalah tempat kekuasaan tertinggi, yang digunakan sebagai pusat "pemerintahan". Tongkonan pekamberan adalah milik anggota keluarga yang memiliki wewenang tertentu dalam adat dan tradisi lokal sedangkan anggota keluarga biasa tinggal di tongkonan batu. Eksklusifitas kaum bangsawan atas tongkonan semakin berkurang seiring banyaknya rakyat biasa yang mencari pekerjaan yang menguntungkan di daerah lain di Indonesia. Setelah memperoleh cukup uang, orang biasa pun mampu membangun tongkonan yang besar.

Ukiran kayu
Bahasa Toraja hanya diucapkan dan tidak memiliki sistem tulisan. Untuk menunjukkan konsep keagamaan dan sosial, suku Toraja membuat ukiran kayu dan menyebutnya Pa'ssura (atau "tulisan"). Oleh karena itu, ukiran kayu merupakan perwujudan budaya Toraja.

Setiap ukiran memiliki nama khusus. Motifnya biasanya adalah hewan dan tanaman yang melambangkan kebajikan, contohnya tanaman air seperti gulma air dan hewan seperti kepiting dan kecebong yang melambangkan kesuburan. Gambar kiri memperlihatkan contoh ukiran kayu Toraja, terdiri atas 15 panel persegi. Panel tengah bawah melambangkan kerbau atau kekayaan, sebagai harapan agar suatu keluarga memperoleh banyak kerbau. Panel tengah melambangkan simpul dan kotak, sebuah harapan agar semua keturunan keluarga akan bahagia dan hidup dalam kedamaian, seperti barang-barang yang tersimpan dalam sebuah kotak. Kotak bagian kiri atas dan kanan atas melambangkan hewan air, menunjukkan kebutuhan untuk bergerak cepat dan bekerja keras, seperti hewan yang bergerak di permukaan air. Hal Ini juga menunjukkan adanya kebutuhan akan keahlian tertentu untuk menghasilkan hasil yang baik.

Keteraturan dan ketertiban merupakan ciri umum dalam ukiran kayu Toraja (lihat desain tabel di bawah), selain itu ukiran kayu Toraja juga abstrak dan geometris. Alam sering digunakan sebagai dasar dari ornamen Toraja, karena alam penuh dengan abstraksi dan geometri yang teratur. Ornamen Toraja dipelajari dalam ethnomatematika dengan tujuan mengungkap struktur matematikanya meskipun suku Toraja membuat ukiran ini hanya berdasarkan taksiran mereka sendiri.Suku Toraja menggunakan bambu untuk membuat oranamen geometris.

Tempat penguburan Toraja yang diukir.
Dalam masyarakat Toraja, upacara pemakaman merupakan ritual yang paling penting dan berbiaya mahal. Semakin kaya dan berkuasa seseorang, maka biaya upacara pemakamannya akan semakin mahal. Dalam agama aluk, hanya keluarga bangsawan yang berhak menggelar pesta pemakaman yang besar. Pesta pemakaman seorang bangsawan biasanya dihadiri oleh ratusan orang dan berlangsung selama beberapa hari. Sebuah tempat prosesi pemakaman yang disebut rante biasanya disiapkan pada sebuah padang rumput yang luas, selain sebagai tempat pelayat yang hadir, juga sebagai tempat lumbung padi, dan berbagai perangkat pemakaman lainnya yang dibuat oleh keluarga yang ditinggalkan. Musik suling, nyanyian, lagu dan puisi, tangisan dan ratapan merupakan ekspresi duka cita yang dilakukan oleh suku Toraja tetapi semua itu tidak berlaku untuk pemakaman anak-anak, orang miskin, dan orang kelas rendah.
Upacara pemakaman ini kadang-kadang baru digelar setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sejak kematian yang bersangkutan, dengan tujuan agar keluarga yang ditinggalkan dapat mengumpulkan cukup uang untuk menutupi biaya pemakaman. Suku Toraja percaya bahwa kematian bukanlah sesuatu yang datang dengan tiba-tiba tetapi merupakan sebuah proses yang bertahap menuju Puya (dunia arwah, atau akhirat). Dalam masa penungguan itu, jenazah dibungkus dengan beberapa helai kain dan disimpan di bawah tongkonan. Arwah orang mati dipercaya tetap tinggal di desa sampai upacara pemakaman selesai, setelah itu arwah akan melakukan perjalanan ke Puya.
Sebuah makam.
Bagian lain dari pemakaman adalah penyembelihan kerbau. Semakin berkuasa seseorang maka semakin banyak kerbau yang disembelih. Penyembelihan dilakukan dengan menggunakan golok. Bangkai kerbau, termasuk kepalanya, dijajarkan di padang, menunggu pemiliknya, yang sedang dalam "masa tertidur". Suku Toraja percaya bahwa arwah membutuhkan kerbau untuk melakukan perjalanannya dan akan lebih cepat sampai di Puya jika ada banyak kerbau. Penyembelihan puluhan kerbau dan ratusan babi merupakan puncak upacara pemakaman yang diringi musik dan tarian para pemuda yang menangkap darah yang muncrat dengan bambu panjang. Sebagian daging tersebut diberikan kepada para tamu dan dicatat karena hal itu akan dianggap sebagai utang pada keluarga almarhum.

Ada tiga cara pemakaman: Peti mati dapat disimpan di dalam gua, atau di makam batu berukir, atau digantung di tebing. Orang kaya kadang-kadang dikubur di makam batu berukir. Makam tersebut biasanya mahal dan waktu pembuatannya sekitar beberapa bulan. Di beberapa daerah, gua batu digunakan untuk meyimpan jenazah seluruh anggota keluarga. Patung kayu yang disebut tau tau biasanya diletakkan di gua dan menghadap ke luar.Peti mati bayi atau anak-anak digantung dengan tali di sisi tebing. Tali tersebut biasanya bertahan selama setahun sebelum membusuk dan membuat petinya terjatuh.

Musik dan Tarian
Suku Toraja melakukan tarian dalam beberapa acara, kebanyakan dalam upacara penguburan. Mereka menari untuk menunjukkan rasa duka cita, dan untuk menghormati sekaligus menyemangati arwah almarhum karena sang arwah akan menjalani perjalanan panjang menuju akhirat. Pertama-tama, sekelompok pria membentuk lingkaran dan menyanyikan lagu sepanjang malam untuk menghormati almarhum (ritual terseebut disebut Ma'badong).
Ritual tersebut dianggap sebagai komponen terpenting dalam upacara pemakaman. Pada hari kedua pemakaman, 
Tarian prajurit Ma'randing ditampilkan untuk memuji keberanian almarhum semasa hidupnya. Beberapa orang pria melakukan tarian dengan pedang, perisai besar dari kulit kerbau, helm tanduk kerbau, dan berbagai ornamen lainnya. 
Tarian Ma'randing mengawali prosesi ketika jenazah dibawa dari lumbung padi menuju rante, tempat upacara pemakaman. Selama upacara, para perempuan dewasa melakukan tarian Ma'katia sambil bernyanyi dan mengenakan kostum baju berbulu. 
Tarian Ma'akatia bertujuan untuk mengingatkan hadirin pada kemurahan hati dan kesetiaan almarhum. Setelah penyembelihan kerbau dan babi, sekelompok anak lelaki dan perempuan bertepuk tangan sambil melakukan tarian ceria yang disebut Ma'dondan.
Tarian Manganda' ditampilkan pada ritual Ma'Bua'.
Seperti di masyarakat agraris lainnya, suku Toraja bernyanyi dan menari selama musim panen. 
Tarian Ma'bugi dilakukan untuk merayakan Hari Pengucapan Syukur dan tarian Ma'gandangi ditampilkan ketika suku Toraja sedang menumbuk beras
Ada beberapa tarian perang, misalnya tarian Manimbong yang dilakukan oleh pria dan kemudian diikuti oleh tarian Ma'dandan oleh perempuan. Agama Aluk mengatur kapan dan bagaimana suku Toraja menari. Sebuah tarian yang disebut Ma'bua hanya bisa dilakukan 12 tahun sekali. Ma'bua adalah upacara Toraja yang penting ketika pemuka agama mengenakan kepala kerbau dan menari di sekeliling pohon suci.

Alat musik tradisional Toraja adalah suling bambu yang disebut Pa'suling. Suling berlubang enam ini dimainkan pada banyak tarian, seperti pada tarian Ma'bondensan, ketika alat ini dimainkan bersama sekelompok pria yang menari dengan tidak berbaju dan berkuku jari panjang. Suku Toraja juga mempunyai alat musik lainnya, misalnya Pa'pelle yang dibuat dari daun palem dan dimainkan pada waktu panen dan ketika upacara pembukaan rumah.

Bahasa
Bahasa Toraja adalah bahasa yang dominan di Tana Toraja, dengan Sa'dan Toraja sebagai dialek bahasa yang utama. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional adalah bahasa resmi dan digunakan oleh masyarakat, akan tetapi bahasa Toraja pun diajarkan di semua sekolah dasar di Tana Toraja.

Ragam bahasa di Toraja antara lain Kalumpang, Mamasa, Tae' , Talondo' , Toala' , dan Toraja-Sa'dan, dan termasuk dalam rumpun bahasa Melayu-Polinesia dari bahasa Austronesia.[30] Pada mulanya, sifat geografis Tana Toraja yang terisolasi membentuk banyak dialek dalam bahasa Toraja itu sendiri. Setelah adanya pemerintahan resmi di Tana Toraja, beberapa dialek Toraja menjadi terpengaruh oleh bahasa lain melalui proses transmigrasi, yang diperkenalkan sejak masa penjajahan. Hal itu adalah penyebab utama dari keragaman dalam bahasa Toraja.

RambuSolo dalah upacara adat kematian masyarakat Toraja yang bertujuan untukmenghormati dan menghantarkan arwah orang yang meninggal dunia menuju alam roh,yaitu kembali kepada keabadian bersama para leluhur mereka di sebuah tempatperistirahatan. Upacara ini sering juga disebut upacara penyempurnaan kematiankarena orang yang meninggal baru dianggap benar-benar meninggal setelah seluruhprosesi upacara ini digenapi. Jika belum, maka orang yang meninggal tersebuthanya dianggap sebagai orang sakit atau lemah, sehingga ia tetap diperlakukanseperti halnya orang hidup, yaitu dibaringkan di tempat tidur dan diberihidangan makanan dan minuman bahkan selalu diajak berbicara.

Puncak dari upacara Rambu solo ini dilaksanakandisebuah lapangan khusus. Dalam upacara ini terdapat beberapa rangkaian ritual,seperti proses pembungkusan jenazah, pembubuhan ornament dari benang emas danperak pada peti jenazah, penurunan jenazah ke lumbung untuk disemayamkan, danproses pengusungan jenazah ke tempat peristirahatan terakhir.
Selain itu, dalam upacara adat ini terdapatberbagai atraksi budaya yang dipertontonkan, diantaranya adu kerbau,kerbau-kerbau yang akan dikorbankan di adu terlebih dahulu sebelum disembelih,dan adu kaki. Ada juga pementasan beberapa musik dan beberapa tarian Toraja.
Kerbau yang disembelih dengan cara menebas leherkerbau hanya dengan sekali tebasan, ini merupakan ciri khas masyarakat TanaToraja. Kerbau yang akan disembelih bukan hanya sekedar kerbau biasa, tetapikerbau bule Tedong Bonga yang harganya berkisar antara 10 50 jutaatau lebih per ekornya.

Upacara Rambu Solo, Pemakaman Khas Toraja
Tana Toraja memang terkenal dengan keunikan kebudayaannya. Salah satu budaya Toraja yang unik adalah upacara pemakaman yang disebut Rambu Solo. Rambu Solo adalah suatu prosesi pemakaman masyarakat Tana Toraja, yang tidak seperti pemakaman pada umumnya.
prosesi upacara rambu soloMelalui upacara Rambu Solo inilah, bisa Anda saksikan bahwa masyarakat Tana Toraja sangat menghormati leluhurnya. Prosesi upacara pemakaman ini  terdiri dari beberapa susunan acara. Dimana dalam setiap acara tersebut Anda bisa menyaksikan nilai-nilai kebudayaan yang sampai sekarang masih dipertahankan oleh masyarakat Tana Toraja.

Prosesi Upacara Pemakaman
Secara garis besar upacara pemakaman terbagi kedalam 2 prosesi, yaitu Prosesi Pemakaman (Rante) dan Pertunjukan Kesenian. Prosesi-prosesi tersebut tidak dilangsungkan secara terpisah, namun saling melengkapi dalam keseluruhan upacara pemakaman.
Prosesi Pemakaman atau Rante tersusun dari acara-acara yang berurutan. Prosesi Pemakaman (Rante) ini diadakan di lapangan yang terletak di tengah kompleks Rumah 

Adat Tongkonan. Acara-acara tersebut antara lain :
-Ma’Tudan Mebalun, yaitu proses pembungkusan jasad
-Ma’Roto, yaitu proses menghias peti jenazah dengan menggunakan benang emas dan benang perak.
-Ma’Popengkalo Alang, yaitu proses perarakan jasad yang telah dibungkus ke sebuah lumbung untuk disemayamkan.
-Ma’Palao atau Ma’Pasonglo, yaitu proses perarakan jasad dari area Rumah Tongkonan ke kompleks pemakaman yang disebut Lakkian.

Prosesi yang kedua adalah Pertunjukan Kesenian. Prosesi ini dilaksanakan tidak hanya untuk memeriahkan tetapi juga sebagai bentuk penghormatan dan doa bagi orang yang sudah meninggal. Dalam Prosesi Pertunjukan kesenian Anda bisa menyaksikan:
-Perarakan kerbau yang akan menjadi kurban
-Pertunjukan beberapa musik daerah, yaitu Pa’Pompan, Pa’Dali-dali, dan Unnosong.
-Pertunjukan beberapa tarian adat, antara lain Pa’Badong, Pa’Dondi, Pa’Randing, Pa’katia, Pa’Papanggan, Passailo dan Pa’Silaga Tedong.
-Pertunjukan Adu Kerbau, sebelum kerbau-kerbau tersebut dikurbankan.
-Penyembelihan kerbau sebagai hewan kurban.
-Penyempurnaan Kematian

upacara rambu soloDalam adat istiadat Tana Toraja, masyarakat mempercayai bahwa setelah kematian maih ada sebuah ‘dunia’. ‘Dunia’ tersebut adalah sebuah tempat keabadian dimana arwah para leluhur berkumpul. Serta merupakan tempat peristirahatan. Masyarakat Toraja menyebutnya Puya, yang berada di sebelah Selatan Tana Toraja. Di Puya inilah, arwah yang meninggal akan bertranformasi, menjadi arwah gentayangan (Bombo), arwah setingkat dewa (To Mebali Puang), atau arwah pelindung (Deata). Masyarakat Toraja mempercayai bahwa wujud transformasi tersebut tergantung dari kesempurnaan prosesi Upacara Rambu Solo. Oleh karena itu, Rambu Solo juga merupakan upacara penyempurnaan kematian.
Selain itu, Rambo Solo menjadi kewajiban bagi keluarga yang ditinggalkan. Karena hanya dengan cara Rambu Solo, arwah orang yang meninggal bisa mencapai kesempurnaan di Puya. Maka keluarga yang ditinggalkan akan berusaha semaksimal mungkin menyelenggarakan Upacara Rambu Solo. Akan tetapi, biaya yang diperlukan bagi sebuah keluarga untuk menyelenggarakan Rambu Solo tidaklah sedikit. Oleh karena itu, upacara pemakaman khas Toraja ini seringkali dilaksanakan beberapa bulan bahkan sampai bertahun-tahun setelah meninggalnya seseorang.

Bukan meninggal, tetapi sakit
Masyarakat Tana Toraja mempercayai bahwa Rambu Solo akan menyempurnakan kematian seseorang. Oleh karena itu, mereka juga beranggapan bahwa seseorang yang meninggal dan belum dilaksanakan Upacara Rambu Solo, maka orang tersebut dianggap belum meninggal. Orang ini akan dianggap bahkan diperlakukan seperti orang yang sedang sakit atau dalam kondisi lemah.
Orang yang dianggap belum meninggal ini, juga akan diperlakukan seperti orang yang masih hidup oleh anggota keluarganya. Misalnya dibaringkan di ranjang ketika hendak tidur, disajikan makanan dan minuman, dan diajak bercerita dan bercanda seperti biasanya, seperti saat orang tersebut masih hidup. Hal ini dilakukan oleh semua anggota keluarga, bahkan tetangga sekitar terhadap orang yang sudah meninggal ini.
perlengkapan upacara rambu soloMaka untuk menggenapi kematian orang tersebut, pihak keluarga harus menyelenggarakan Rambu Solo. Oleh karena biaya yang tidak sedikit, maka pihak keluarga membutuhkan waktu untuk mengumpulkan dana untuk upacara pemakaman. Biaya untuk menyelenggarakan Upacara Rambu Solo berkisar antara puluhan juta sampai ratusan juta rupiah. Itulah sebabnya mengapa di Tana Toraja orang yang meninggal, baru akan dimakamkan berbulan-bulan setelah kepergiannya.

Upacara pemakaman adat di Tana Toraja memang tergolong unik. Keunikannya bahkan sudah terkenal sampai ke mancanegara. Ritual adat pada setiap prosesinya penuh dengan makna. Sehingga ketika Anda berkunjung ke Tana Toraja untuk menyaksikan ritual pemakaman ini, akan ada banyak hal yang mengagumkan. Namun satu hal yang akan membuat Anda cukup kaget, yaitu biaya penyelenggaraan Rambu Solo.
perarakan rambu solo ke LakkianSeperti yang sudah Anda ketahui bahwa ritual pemakaman masyarakat Toraja biasanya dilaksanakan berbula-bulan bahkan bertahun-tahun setelah kepergian seseorang. Waktu yang lama tesebut dikarenakan anggota keluarga almarhum membutuhkan waktu untuk mengumpulkan dana yang cukup banyak. Nah, tahukan Anda berapa jumlah biaya yang dikeluarkan keluarga untuk melaksanakan Upacara Pemakaman Rambu Solo? sebuah Upacara Rambu Solo bisa mencapai 4-5 miliyar rupiah. Rata-rata Rambu Solo diselenggarakan dengan biaya ratusan juta rupiah.
Rambu Solo bukan upacara pemakaman. Dalam upacara pemakaman ini banyak sekali hal-hal yang menjadi persyaratan dan pendukung sebuah Rambu Solo yang ideal.
Kerbau Kurban
kerbau tedong acara rambu solo Salah satu persyaratan dalam menyelenggarakan Rambu Solo adalah hewan kurban berupa kerbau dan babi. Bagi masyarakat Toraja, kerbau adalah hewan suci. Dalam Upacara Rambu Solo, kerbau menjadi aspek yang utama. Menurut keyakinan masyarakat Toraja, kerbau merupakan hewan yang akan menghantarkan arwah orang yang meninggal ke Puya. Semakin banyak kerbau yang dikurbankan, maka arwah orang yang meninggal akan semakin cepat mencapai Puya.
Kerbau yang dikurbankan pun bukan sembarang kerbau. Kerbau yang akan dikurbankan dalam Upacara Rambu Solo adalah Tedong Bonga (kerbau bule) Belang, dari jenis Bubalus bubalis yang biasa dikenal sebagai kerbau lumpur. Kerbau ini mempunyai ciri albino (bule) dan warna kulit yang  belang. Harga seekor kerbau ini sekitar 20-50 juta rupiah. Namun untuk kerbau yang spesial, harganya bisa mencapai sekitar 600 juta rupiah.
Sedangkan untuk jumlah kerbau yang akan dikurbankan pada Rambu Solo ini, tergantung dari strata sosial keluarga yang berduka. Semakin tinggi strata sosial sebuah keluarga, semakin banyak pula jumlah kerbau yang dikurbankan. Untuk keluarga dengan strata sosial menengah, biasanya kurbau yang dikurbankan sebanyak 8-10 ekor ditambah babi sebanyak 30-50 ekor. Namun untuk keluarga dari kalangan bangsawan, kerbau yang dikurbankan berjumlah sekitar 25-150 ekor. Dengan demikian tidak mengherankan jika biaya yang digunakan untuk melaksanakan Rambu Solo bisa mencapai 4-5 miliyar rupiah. Sebagian besar dari biaya tersebut digunakan untuk membeli persyaratan hewan kurban ini.
Kerbau-kerbau yang menjadi kurban Upacara Rambu Solo ini, akan diarak keliling desa terlebih dahulu sebagai bentuk penghormatan. Kemudian menjelang sore akan diadakan pertarungan kerbau. Setelah acara tersebut baru kemudian kerbau-kerbau ini disembelih. Daging kerbau-kerbau tersebut kemudian dibagikan kepada orang-orang yang telah membantu proses pelaksanaan Rambu Solo.
Selain persyaratan hewan kurban, beberapa hal yang menjadi kewajiban dalam Upacara Rambu Solo Tana Toraja Sulawesi adalah pernak-pernik perhiasan. Sebagai contoh, peti jenazah biasanya dihias dengan kain adat, juga tali dan pernak-pernik dari emas dan perak. Tak hanya itu, di dalam peti jenazah juga akan diletakkan berbagai barang sebagai “bekal perjalanan” menuju Puya. Barang-barang tersebut berupa pakaian, bermacam-macam perhiasan, dan sejumlah uang. Tidak hanya bekal milik jenazah, bekal untuk anggota keluarga yang sudah lama meninggal juga dititipkan para jenazah yang baru saja meninggal ini.
Barang-barang tersebut merupakan persyaratan dalam Upacara Rambu Solo, sebagai persembahan dan pembekalan kepada almarhum agar bisa melakukan perjalanan ke Puya.

Setelah melewati Upacara Rambu Solo, almarhum akan diarak dan diantar ke pemakaman yang terletak di dinding tebing. Biasanya akan dibentangkan kain merah yang panjang, dengan peti jenasah berada di paling belakang. Tak hanya dari pihak keluarga saja, seluruh masyarakat desa akan turut berjalan mengantarkan jenazah sampai ke Lakkian.

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Toraja

Tempat Wisata di Sulawesi Selatan per Kabupaten


Objek Wisata di Kabupaten TanaToraja :

Lemo ***** : Pada pemakaman Lemo ini Anda bisa melihat indahnya hamparan persawahan dan sebuah kuburan tebing (Liang Pa' / kuburan batu yang dipahat). tempat wisata ini kami beri bintang 5 untuk kualitas tempat wisata yang wajib di kunjungi


Ke'te Kesu **** : Lokasinya berjarak sekitar 5 Km jika Anda dari tetangga Rantepao. obyek wisata ini sangat mempesona dan berada di desa ini yang berupa tongkonan, lumbung padi serta bangunan megalit yang berada di sekitarnya. Kawasan perkampungan ini juga sudah terkenal akan seni ukirannya dan juga merupakan sebuah tempat yang menarik untuk Anda yang ingin berbelanja cenderamata.
tempat wisata ini kami beri bintang 4 untuk kualitas tempat wisata yang wajib di kunjungi

Londa ***** : Merupakan sebuah tebing yang curam, di tebing tersebut terdapat banyak sekali lubang mayat (Liang).
tempat wisata ini kami beri bintang 5 untuk kualitas tempat wisata yang wajib di kunjungi

Pallawa *** : Lokasinya berada sekitar 12 Km menuju ke Utara dari Rantepao, Tongkonan atau sebuah Rumah Tradisional Pallawa merupakan salah satu tongkonan yang juga menarik, dan letaknya diantara pohon-pohon bambu yang berada di puncak bukit.
tempat wisata ini kami beri bintang 3 untuk kualitas tempat wisata yang wajib di kunjungi

Batu Tumonga ***** : merupakan sebuah kawasan pegunungan yang indah dan letaknya berada sekitar 1300 m diatas permukaan laut. Para kawasan ini Anda bisa menemukan kurang lebihnya ya sekitar 56 batu menhir yang berada dalam 1 lingkaran dengan sekitar 4 pohon pada bagian tengah, kebanyakan batu menhir ini berketinggian antara 2-3 m.
tempat wisata ini kami beri bintang 5 untuk kualitas tempat wisata yang wajib di kunjungi

Bori * : tempat ini merupakan sebuah lapangan pesta untuk para bangsawan yang ada di Tana Toraja dan pada tengah-tengah lapangan ini terdapat banyak berbagai batu menhir yang tingginya kurang lebih sekitar 3-7 m dan besar lingkarannya kurang lebihnya sekitar 2-5 m.
tempat wisata ini kami beri bintang 1 untuk kualitas tempat wisata yang tidak wajib di kunjungi

kuburuan batu loko mata **
kuburan raja raja suaya***
kuburan bayi kambira*
kuburan gua tampang allo**


dan tempat wisata di bawah ini tidak kami beri tanda bintang karena keunikan dan keindahan yang kurang.

kuburan bayi sarapu
Kampung Rumah adat Marante
Kampung Rumah adat Nanggala
Kampung Rumah adat saddan to barrana
Kampung Rumah adat  saddan sakombong
Kampung Rumah adat Siguntu
Kampung Rumah adat karuaya
Menhir Karrassik



Objek Wisata di Kabupaten Enrekang :
Buttu Kabobong (Bambapuang) yang lokasinya berada di Bambapuang kec. Anggeraja yang berjarak kurang lebih sekitar 17 Km dari Kota Enrekang.

Objek Wisata di Kabupaten Maros :
Air Terjun Bantimurung : Kawasan ini lokasinya berada di Lembah Bukit Kapur atau Karst yang sangat curam dengan mempunyai vegetasi tropis yang subur, selain mempunyai air terjun yang sangat spektakuler juga menjadi sebuah habitat yang begitu ideal bagi berbagai macam spesies dan kupu-kupu, disini juga terdapat sebuah gua yang namanya gua mimpi dengan memiliki stalaktif dan stalaktimitnya yang sungguh menakjubkan sehingga jikalau Anda sedang berada di gua tersebut akan serasa seperti dalam sebuah mimpi.
Salukang Karang : merupakan sebuah gua yang terbesar yang memiliki panjang kurang lebih sekitar 12 Km sayangnya tidak semua wisatawan akan diperbolehkan untuk masuk ke gua ini. Tempat ini juga disebut dengan nama Taman Prasejarah Leang-Leang dan lokasinya berada pada deretan bukit kapur yang begitu curam.
Gua Pattunuang : objek wisata ini mempunyai kekayaan akan stalaktif dan stalakmit yang sangat menakjubkan dan juga panorama alam yang ada disekitarnya sangat cantik dan indah.
Leang Panninge : adalah sebuah gua yang memiliki stalaktif dan stalakmit yang juga dapat memberikan sebuah kenyamanan tersendiri karena gua ini memiliki diameter yang lapang.
Cagar Alam Karaenta : Tempat wisata lain yang lokasinya juga di Desa Samangki adalah Cagar Alam Karaenta yang juga merupakan sebuah kawasan dari hutan lindung. Salah satu daya tarik dari kawasan ini yaitu karena mempunyai gua yang dengan panjang kurang lebih sekitar 2.200 meter dan merupakan sebuah habitat alam yang ideal untuk kera dengan jenis Macaca Maura yang sudah tergolong langka.
Daftar Objek Wisata di Kabupaten Pangkajene Kepulauan :
Pulau Kapoposan : Pulau ini adalah salah satu dari sebuah gugusan kepulauan spermode, Pulau ini mempunyai gugusan terumbu karang yang sangat padat dan indah. Untuk dapat menikmati pemandangan dari alam bawah lautnya Anda dapat melakukan diving. Pulau ini lokasinya di Desa Mattiroujung Kecamatan Luikang Tupabiring.
Kawasan Karst : Merupakan sebuah Kawasan yang terletak disepanjang perjalanan menuju ke Kab. Maros dan Peng Kep. Karst berbentuk sebuah gunung batu kapur dengan berbagai macam bentuk dan model.
Waterboom : Adalah Kawasan daerah yang terletak kurang lebihnya adalah sekitar 4 Km jika Anda dari arah Kota Pangkep. Letaknya tepat berada di bawah kaki bukit karst Mattampa.



Objek Wisata di Pare-pare :
Pantai Lumpue
Objek Wisata Gua Tompangnge juga sudah biasa disebut dengan nama gua kelelawar
Water Boom Pare Pare
Sumur Jodoh
Kawasan Hutan Jompie


Objek Wisata di Kabupaten Barru :
Taman Laut Mallusetasi : Lokasinya di Kelurahan Bojo Baru.
Pantai Labuangnge : Lokasinya di Kelurahan Bojo Baru.
Pantai Lapakak : Lokasinya di Kelurahan Bojo Baru.
Air Terjun Wae Saie : Lokasinya di Kelurahan Lompo Riaja.
Sumber Air Panas Kalompie : Lokasinya di Desa Galung Kecamatan Barru.

Objek wisata di kabupaten Gowa :
Kawasan Dataran Tinggi Malino
Air Terjun Malino
Kawasan Bendungan Bili-bili
Objek Wisata di Kabupaten Bulukumba :
Pantai Tanjung Bira : Pantai ini mempunyai hamparan pasir putih yang jernih dan halus layaknya tepung. Pulau ini lokasinya di Kec. Bonto Bahari sekitar 46 Km jika dari Kota Bulukumba.
Tana Beru Tempat Pembuatan
Perahu Phinisi : Berlokasi di Pesisir pantai pada kelurahan Tana Beru yang jaraknya sekitar 25 Km kalau dari Kota Bulukumba. Tana Beru sudah dikenal sebagai sebuah tempat untuk pembuatan perahu atau sebuah kapal tradisional Phinisi.
Kawasan Adat Ammatoa : Keindahan alam yang berwujud kelestarian kawasan hutan adalah ciri khas dari sebuah daerah adat ini, dan budaya dari masyarakat dengan hidup yang akan jauh dari sebuah hidup modern. Tempat ini lokasinya di Desa Tana Toa kec. Kajang yang jaraknya kurang lebih sekitar 56 Km jikalau Anda dari Kota Bulukumba, dengan memiliki fasilitas diantaranya tempat penerimaan tamu.




Objek Wisata di Kabupaten Luwu :
Pantai Lalombo : adalah sebuah objek wisata yang berada di Kabupaten Luwu. Pantai ini jaraknya sekitar 3 Km jika Anda dari Pusat Kota Palopo, kawasan wisata ini mempunyai hamparan pasir putih yang indah dan daya tarik tersendiri yang mempesona. Pada kawasan ini juga terdapat berbagai fasilitas olahraga pantai seperti halnya lapangan volly pantai, area untuk memancing dan juga menyelam.
Pantai Bone Pute : Lokasinya di Kecamatan Larompong.
Gua Liang Andulan : Lokasinya di Desa Siteba Kecamatan Lamasi.
Wisata Alam Latuppa : Lokasinya di Kecamatan Wara.


Objek Wisata di Kabupaten Pinrang :
Pulau Kamarrang : Lokasinya di Kelurahan Ujung Labuang.
Pantai Kappe : Lokasinya di Desa Data,Kecamatan Duampanua.
Pantai Wae Tuwo : Lokasinya di Desa Wae Tuwo.
Air Terjun Karawa : Lokasinya di Kelurahan Betteng.
Air Terjun Kalijodoh : Lokasinya di Kelurahan Betteng.
Pemandian Air Panas Sulili : Lokasinya di Kelurahan Maminasse.
Pemandian Air Panas Lemosusu : Lokasinya di Kelurahan Maminasse.


Objek Wisata di Kabupaten Soppeng :
Panorama Alam Kelelawar : Sejak Dahulu burung kalong memang sudah menghuni Pusat Kota Watansoppeng dan uniknya lagi kalau mereka hanya ingin berdiam diri dan bergantungan pada pepohonan yang lokasinya berada di jantung kota.
Gua Coddang Citta : Gua ini lokasinya berada di Desa Citta Kecamatan Liliraja yang jaraknya sekitar 36 Km menuju arah sebelah timur dari Kota Watansoppeng. Merupakan wujud dari salah satu fenomena alam yang terbentuk pada kawasan batu gamping karst sekitar jutaan tahun lalu.
Pemandian Alam Lejja : Lokasinya di Desa Bulu Kec. Marioriawa yang jaraknya sekitar 45 Km jika Anda dari Kota Watansoppeng.
Pemandian Alam Ompo : Sebuah tempat wisata pemandian yang terletak di Kelurahan Ompo Kec. Labata yang berjarak sekitar 4 Km menuju arah sebelah utara jika dari Kota Watansoppeng.


Objek Wisata di Kabupaten Sinjai :
Pulau Burungloe
Pulau Liang liang
Pulau Kambuno
Pulau Kodingare
Pulau Batanglampe
Pulau Katingdoang
Pulau Katanalo 1
Pulau Katanalo2
Pulau Larearea.



Objek Wisata di Kabupaten Bone
Pantai Tanjung Palette : Lokasinya berada di Desa Palette Kec. Tanete Riattang yang jaraknya kurang lebih sekitar 33 Km menuju ke arah selatan Kota Bone.
Gua Mampu : Lokasinya berada di Desa Labbeng.
Gua Cempalagi : Lokasinya berada di Desa Mallari.
Pantai Ancue.




Objek Wisata di Kabupaten Takalar :
Pulau Sanrobengi.
Pulau Lihukan : Lokasnya berada di kawasan Pantai Bira.
Pulau Selayar : Lokasnya berada di arah tenggara dari daratan semenanjung Sulawesi Selatan.
Benteng Bontobangun.


Objek Wisata di Kabupaten Jeneponto :
Pulau Harapan : Lokasnya berada di Desa Mallasoro di arah sebelah barat Kabupaten Jeneponto.
Air Terjun Boro : Lokasnya berada di Kecamatan Kelara,
Pantai Birtaria Kassi : Lokasnya berada di Kecamatan Tamalatea.


Objek Wisata di Kabupaten Banteng :
Pantai Marina Korong Batu : Salah satu wisata pantai ini Lokasnya berada di Desa Baruga kec. Pa'jukukang yang berjarak sekitar 19 Km jika Anda dari Kota Bantaeng.
Air Terjun Bissapu : Jika Anda ingin melakukan perjalanan untuk menuju air terjun ini alangkah baiknya jika dilakukan pada waktu pagi hari, Pada sepanjang jalan ini Anda bisa merasakan hawa udara yang sejuk dan juga pemandangan alam yang indah dengan pepohonan hijau berada dikanan kiri jalan.
Hutan Wisata Gunung Loka : Lokasnya berada di Desa Bonto Marranu, Kecamatan Uluere.
Pantai Tope Jawa : Lokasnya berada di Desa Topejawa.
Pantai Tanakeke.


Kota Makassar mempunyai beraneka ragam tempat wisata yang dapat dikunjungi untuk menghabiskan waktu liburan, baik itu masyarakat Makassar ataupun untuk wisatawan yang berasal dari kota lain maupun mancanegara. Objek wisata di Makassar yang paling populer adalah :
Pantai Losari
Fort Rotterdam
Pantai Akarena
Pulau Laelae
Pulau Khayangan
Pulau Samalona
Benteng Sombaopu
Pantai Barombong
Makam Raja-Raja Tallo
Makam Sjekh Jusuf (Gowa)
Pelabuhan Paotere
Taman Makam Pahlawan
Trans Studio (Indoor Theme Park terbesar di dunia)
Bantimurung, (Kabupaten Maros)
Malino, (Kabupaten Gowa)
Desa wisata Delta Lakkang
Kota Makassar juga sering di sebut dengan nama kota daeng atau kota agin mammiri memiliki potensi wisata Alam yang berfariasi, mulai dari wisata pantai, wisata gunung, wisata budaya. Berikut ini yoshiewafa akan memberikan daftar objek wisata di Makassar yang lebih lengkap lagi :